Kamis, 06 Desember 2012

Ibnu Thufail



I.                   PENDAHULUAN
Filsafat merupakan hasil pemikiran para filosof yang mengemukakan hakikat sesuatu dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis. Dalam berfilsafat berarti mengajak orang lain untuk berfikir tentang hakikat sesuatu, dan sesuatu yang dimaksud tersebut adalah hakikat tentang adanya Tuhan. Salah satu tokoh yang berperan dalam pemikiran filsafat ini adalah Ibnu Thufail. Untuk lebih jelasnya mengenai bagaimana filsafat dan pemikiran beliau, dapat dipelajari secara singkat dalam makalah ini. Semoga apa yang kami sajikan dapat difahami dan memberikan manfaat bagi pembacanya.
II.                PEMBAHASAN
  1. Biografi Ibnu Thufail
Ibnu Thufail adalah salah satu dari filsuf muslim di belahan bagian barat. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Abd Al-Malik Ibn Muhammad Ibn Thufail Al-Qoisyi, sedangkan di Barat beliau lebih dikenal dengan nama latinnya abubacer.[1] Beliau dilahirkan pada tahun 506 H/1110M di Guardix, di desa cadix Granada Andalus[2] 40 Mil di laut Granada di provinsi Granada.[3] Ia termasuk dalam keluarga suku arab terkemuka yaitu Qais[4] dan hidup dalam pemerintahan Daulah Muwahhidun.
Dalam sejarah hidupnya, beliau adalah merupakan seorang yang alim, berwawasan luas, ahli ilmu alam, penyair, peramal dan filosof. Selain sebagai pemikir, beliau berprofesi sebagai mentri untuk penguasa Granada. Setelah itu, pada tahun 549 H/1154 M beliau diangkat menjadi sekretaris Dinasti Muwahidin di Afrika oleh Amir Abu Said bin Abdul Mukmin, penguasa Sabitah dan Tanjah. Kemudian pada tahun 558 H/1163 M beliau  menjadi asisten ahli mentri dan dokter pribadi Abu Ya’qub Yusuf, khalifah kedua Dinasti Muwahidin.[5]
Pada masa khalifah Abu Ya’qub Yusuf, Ibnu Thufail mempunyai pengaruh yang besar dalam pemerintahan. Pada pihak lain, beliau mencintai ilmu pengetahuan dan secara khusus adalah peminat filsafat serta memberi kebebasan berfilsafat. Sikapnya itu menjadikan pemerintahannya sebagai pemuka pemikiran filosofis dan membuat Spanyol, seperti dikatakan R. Briffault sebagai “tempat kelahiran kembali negeri Eropa”. Namun ia kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dokter pemerintah pada tahun 578 H/1182 M, dikarenakan usianya yang sudah mulai uzur. Kedudukannya itu akhirnya digantikan oleh Ibnu Rusd atas permintaan dari Ibnu Thufail sendiri. Tapi beliau tetap mendapatkan penghargaan dari Abu Ya’qub setelah dia meninggal pada tahun 581 H/1185 M di Marakesh (Maroko) dan dimakamkan disana, Al-Mansur sendiri hadir dalam upacara pemakamannya.[6]
  1. Karya-karya Ibnu Thufail
Dalam sejarah hidup beliau, tidak terlalu banyak karangan yang dapat kita peroleh sebagai karya-karyanya. Namun dalam sebuah sumber menyebutkan, antara lain dari hasil karya beliau antara lain Risalah fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy Ibnu Yaqzhan) Rasa'il fi an-Nafs, Biqa' al-Maskunnah wa Al-Ghair al-Maskunnah. Selain itu beliau juga memiliki beberapa buku tentang kedokteran serta risalah berisi kumpulan surat-menyurat yang beliau lakukan dengan Ibnu Rusyd dalam berbagai persoalan filsafat. Ibnu Rusyd mengatakan bahwa Ibnu Thufail mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang dalam ilmu falak. Sayangnya semua hasil karya beliau tidak ada yang tersisa kecuali risalah Hayy ibnu Yaqzhan.[7]
  1. Pemikiran Filsafat Ibnu Thufail
Dalam pemikiran yang dimaksudkan pada kisah ibnu Yaqzan, Ibnu Thufail ingin mengatakan bahwa insting manusia kepada Tuhannya adalah merupakan sifat alami yang dimiliki oleh akal. Akal dan wahyu adalah pemikiran filsafat yang paling penting. Selain itu, ada juga pemikiran-pemikiran filsafat Ibnu Thufail lainnya yang tersirat dalam buku tersebut. Kisah ini ditulis sebagai jawaban atas permintaan seorang sahabatnya yang ingin mengetahui hikmah ketimuran (al-hikmah al-masyriqiyyat) maka pada pengantarnya sebagai berikut:
“wahai saudara yang mulia, engkau minta agar sedapat mungkin aku membuka rahasia-rahasia filsafat timur yang sudah disebutkan oleh Abu ‘Ali Ibn Sina. Ketahuilah bahwa bagi orang yang mengingkari kebenaran yang tidak berisi kesamaran lagi, maka ia harus mencari filsafat itu dan berusaha memilikinya.”
Sesudah itu ia mengatakan bahwa tujuan filsafat tersebut ialah memperoleh kebahagiaan dengan jalan dapat berhubungan dengan Akal Faal melalui akal (pemikiran).[8] Selain itu, berat dugaan tulisan Ibnu Thufail ini erat kaitannya dengan serangan al-Ghazali terhadap dunia filsafat. Di kala itu, orang-orang takut berfilsafat dan usaha-usaha para filosof muslim yang telah mendamaikan filsafat dengan agama yang telah sirna sama sekali. Ibnu Thufail ingin menetralisasi keadaan dan ingin mengembalikan filsafat ke tempat yang semula, yakni filsafat bukanlah “barang” haram. Agar filsafat itu juga bisa dimengerti oleh orang awam dan memasyarakatkan filsafat.[9] Untuk lebih jelasnya maka ada baikmya untuk menyimak kisah ibnu Yaqzan untuk kemudian mengambil kesimpulan tentang pemikiran filasafatnya.[10]
  1. Hayy Ibnu Yaqzhan
Hayy ibnu Yaqzhan dalam buku tersebut adalah sebuah kisah tentang seseorang yang dijadikan sebagai objek dan simbol dari filsafatnya Ibnu Thufail akan akal manusia yang tanpa bimbingan wahyu mampu mencapai kebenaran tentang fenomena dunia ini, Tuhan, dan alam rohani lainnya. Dan adapun kebenarannya, sama sekali tidak bertentangan dengan kebenaran wahyu yang disampaikan oleh para nabi kepada umatnya.[11]
Hayy adalah seorang anak dari seorang putri kerajaan yang menikah dengan rakyat jelata. Namun karena rasa takut si putri ini apabila ketahuan dengan kakaknya yang mana adalah menjadi raja ini, maka ia memasukkan bayinya kedalam peti dan melemparnya ke laut. Dengan hempasan ombak, peti tersebut mendarat kesebuah pulau terpencil tak berpenghunikan oleh manusia. Di pulau yang tak berpenghuni oleh manusia ini, ia dirawat oleh seekor rusa yang baru saja mengalami kehilangan bayinya. Ia tumbuh dengan baik dalam lingkungan binatang menjadi manusia dewasa.
Ketika ia sudah dewasa, ia memiliki hasrat yang kuat untuk mengetahui dan menyelidiki itentang segala sesuatu yang tidak dapat dimengertinya. Akalnya berkembang sedemikian rupa menurut sunnatullah sehingga ia bukan saja mampu berfikir tentang fenomena dunia melainkan mampu menangkap segala sesuatu yang bersifat abstrak dan mengetahui tentang Tuhannya.[12] Dan juga ia menemukan cara memenuhi kehidupan hidupnya. Perasaan dan pikirannya mendorongnya untuk mengambil keputusan bahwa alat kelaminnya perlu ditutup.[13]
Pada suatu hari rusa yang mengasuhnya semakin tua dan lemah kemudian mati. Pikiran manusia yang  ingin serba tahu ini akhirnya meneliti kenapa sang rusa tersebut tidak bergerak lagi dan akhirnya membedah tubuh hewan terseebut. Dengan cermatnya ia menyelidiki dan kemudian memberi kesimpulan bahwa jantung merupakan pusat anggota tubuh.[14]
Tidak jauh dari pulau tersebut, terdapat pulau yang dihuni oleh sekumpulan masyarakat yang menganut ajaran nabi dari wahyu yang disampaikan kepadanya. Tokoh utama dalam masyarakat tersebut adalah Absal dan Salaman. Keduanya ini memiliki kecenderungan yang berbeda. Absal lebih tertarik pada ketentuan hukum agama sedangkan Salaman lebih condong dan berpegang teguh kepada arti-arti lahiriahnya. Akan tetapi karena  para masyarakat yang lebih banyak menggunakan ajaran sebagaimana pemikiran Absal, maka Salaman kemudian mengasingkan diri ke sebuah pulau yang mana pulau tersebut dihuni oleh Hayy Ibnu Yaqdzan.
Ketika keduanya berjumpa, Salaman mengajarinya berbicara sehingga keduanya dapat berdialog dan mendiskusikan pemikiran keduanya yang memiliki sumber berbeda. Ternyata mereka mudah menerima pemikiran yang satu dengan yang lainnya dan saling membenarkan.
Selanjutnya mereka bersepakat untuk kembali ketempat tinggal Salaman dan mengajarkan serta mengajak masyarakat setempat untuk mau menerima pemahaman mereka. Ternyata Absal dan masyarakat tersebut tidak tertarik kepada pemikiran tersebut. Akhirnya mereka kembali kepulau kediaman Hayy Ibnu Yaqdzan dan melanjutkan ibadah dan tafakur kepada Tuhan.[15]
Pada akhirnya, dalam pemikiran Ibnu Thufail yang dimaksudkan pada kisah ibnu Yaqzan, yaitu Ibnu Thufail ingin mengatakan bahwa insting manusia kepada Tuhannya adalah merupakan sifat alami yang dimiliki oleh akal.
  1. Filsafat ibnu Thufail dalam kisah Hayy ibnu Yaqdzan
Ibnu Thufail mau menggambarkan bahwa filsafat (akal) dapat berkembang sendiri tanpa harus bergantung pada masyarakat yang telah maju. Dengan filsafat itu manusia dapat mengenal tuhan. Akan tetapi, Ibnu Thufail akhirnya mengakui juga bahwa agama lebih praktis untuk menuntun secara langsung keselamatan manusia dalam hidupnya. Filsafat itu dapat dipakai untuk makrifat kepada tuhan, tetapi amal kehidupan manusia sendiri filsafat itu terlalu ideal dan teoritis.
Ibnu Thufail membagi perkembangan alam pikiran manusia menuju hakikat kebenaran itu ke dalam enam bagian:
Pertama: dengan cara ilmu Hayy bin yaqdzan yaitu denga kekuatan akalnya sendiri, memperhatikan perkembangan alam mahluk ini bahwa tiap-tiap kejadian pasti ada yang menyebabkannya.
Kedua: dengan cara pemikiran Hayy bin Yaqdzan terhadap teraturnya peredaran benda-benda besar di langit seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang.
Ketiga: dengan memikirkan bahwa kebahagiaan seseorang ialah menyaksikan adanya wajibal wujud.
Keempat: dengan memikirkan bahwa manusia ini adalah sebagian saja dari mahluk hewani, tetapi dijadikan Tuhan untuk kepentingan-kepentinagn yang lebih tinggi dan utama dari hewan.
Kelima: dengan memikirkan kebahagiaan manusia dan keselamatannya dari kebinasaannya hanyalah terdapat pada pengekalan penyaksian terhadap Tuhan wajibal wujud.
Keenam: mengakui bahwa manusia dan alam mahluk ini fana dan semua ini kembali kepada Tuhan.[16]
Maksud lain dengan bukunya itu ialah Ibnu Thufail ingin menjelaskan bahwa agama pada asasnya sesuai dengan alam pikiran (filsafat). Dengan akalnya manusia akan dapat menyelami maksud agama. Hanya dalam beberapa hal, terutama dalam soal-soal peribadatan seperti shalat, puasa, dan haji, akal manusia terlalu lemah unutk menyelami hikmahnya yang sebenarnya. [17]
  1. Filsafat dan agama
Yang dimaksud agama adalah syari’at tentang pengamalan ajaran agama tersebut. Filsafat dan agama adalah selaras bahkan merupakan suatu gambaran yang satu. Dalam kisah tersebut disebutkan bahwa Hayy ibnu Yaqzan sejak bayi hidup disuatu pulau yang sama sekali tidak berpenghunikan manusia sehingga ia tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lain. Dengan demikian, ia jelas sama sekali tidak pernah berguru dengan orang lain. Namun ternyata ia mampu mengenal Tuhan. Ia dapat mengenal dan mengetahui adanya Tuhan tidak melalui informasi dari orang lain sebagaimana mereka masyarakat umat beragama tetapi melainkan Hayy berfikir dengan menggunakan akal pemikirannya dan menghasilkan pemikiran tentang adanya Tuhan.[18]
  1. Epistemologi
Epistimologi Ibnu Thufail yang tersirat dalam kisah Hayy, bahwa pengetahuan (ma’rifah) dapat diperoleh melalui dua jalan, yaitu dengan jalan filsafat dan jalan agama. Jalan filsafat adalah ma’rifahyang diperoleh melalui akal, sedangkan jalan agama adalah ma’rifah yang diperoleh melalui wahyu.[19]
Ma’rifah yang melalui akal bisa dengan cara mengamati, meneliti, mencari, mencuba dan sebagainya. Ma’ rifah dalam hal ini merupakan pemirikan yang dilatih, berkembang, bertingkat dan beragam. Sedangkan ma’rifah melalui agama yaitu sebuah pemahaman wahyu dan menghayati batinnya. Hasilnya hanya dapat dirasakan namun sulit untuk dapat mengungkapkannya.[20]
  1. Jiwa
Jiwa menurutnya Ibnu Thufail adalah penggerak bagi jasad. Sifat jiwa berbada dengan jasad. Jasad bersifat materi sedangkan jiwa bersifat immateri. Apabila seseorang mengalami kematian, jiwanya akan terlepas dari jasadnya. Jasad akan hancur akan tetapi jiwa yang pernah mengenal Tuhan sewaktu berada dalam jasad, dan setelah berpisahdenga jasad, ia akan tetap abadi. Sedangkan jiwa yang tidak pernah mengenal Tuhan ketika berada dalam jasad, ia akan binasa bersama dengan binasanya jasad setelah mengalami kematian.[21]
  1. Tentang Dunia
Sebagaimana al-Ghazali, beliau mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat dipahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan kerena itu, kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia dikesampingkan. Selain itu, segala sesuatu yang tercipta  pasti memiliki sang pencipta.[22]
  1.  Metafisika
Pengalaman hidup dan keseriusan menggunakan akal untuk mengamati keadaan yang mengitari, merupakan jalan yang mengantarkan seseorang menuju kepada Tuhannya. Bagi ibnu Thufail, dalil adanya Tuhan adalah alam yang bergerak. Sebab segala sesuatu yang bergerak pasti ada yang menggerakkan. Dalam membuktikan adanya Allah swt Ibnu Thufail mengemukakan tiga argumen:argumen gerak (al-harakat), argumen materi (al-madat) dan bentuk (al-shurat), argumen al-ghaiyyat dan al-‘inayat al-ilahiyyat.[23]

III.             PENUTUP
Filsafat Ibnu Thufail secara ringkas sesungguhnya ingin menyatakan bahwa seorang manusia mempunyai pikiran yang cerdas dan memiliki kesiapan secara natural memungkinkan untuk sampai kepada suatu pengetahuan secara gradual dari suatu yang inderawi kepada suatu yang rasional atau dari suatu yang tak diketahui (malhul) menuju suatu yang diketahui (ma’lum) sampai kemudian menuju ke pembentukan pengetahuan yang bersifat metafisika dan kemungkinan itu tetap ada sekalipun ia hidup di habitat yang terisolir dari manusia  tanpa bantuan bahasa, tradisi, agama dan budaya yang mewarnainya dan itulah tema yang ingin di tunjukkan dalam kehidupan hay bin yaqzhan dalam keterisolasirannya yang total sejak kelahirannya, ini berbeda dengan Ibnu Sina dan Ibnu Bajah yang berpendapat bahwa pemikiran tentang hal-hal metafisika merupakan hasil pembelajaran, study, dan intelektualitas yang berarti mensyaratkan bagi orang yang mencapai pengetahuan tersebut untuk hidup dalam habitat manusia.
Dafta pustaka
‘Utsman Najati  Muhammad, Jiwa Dalam Pandangan Filosof Muslim, Terj. Gazi Saloom (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002).
Hadariansyah, Pengantar Filafat Islam: Mengenal Filosof-filosof muslim dan filsafat mereka (Banjarmasin: Kafusari Press, 2012)
Hanafi  Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1996).
Mustofa A, filsafat islam (bandung: pustaka Setia, 2004) .
Nasution  Hasyimsyah, filsafat islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999).
Poerwantana, A. Ahmadi, Rosali, seluk beluk filsafat islam , (Salatiga:CV.rosda,1987).
Sudarsono, Filsafat Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1997).
Supriyadi  Dedi, Pengantar Filsafat Islam: konsep, filsuf, dan ajarannya, (Bandung: Pustaka Setia,2009).
Syarif  M. M., Para Filosof Muslim, (Bandung: PT mizan,1996).
Zar Sirajuddin , Fisafat Islam Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,2007).


[1] Lihat Hadariansyah, Pengantar Filafat Islam: Mengenal Filosof-filosof muslim dan filsafat mereka (Banjarmasin: Kafusari Press, 2012), hal. 153 dan Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam: konsep, filsuf, dan ajarannya, (Bandung: Pustaka Setia,2009), hal. 211.
[4] M. M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: PT mizan,1996), hal. 173.
[5] Muhammad ‘Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Filosof Muslim, Terj. Gazi Saloom (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hal. 277
[6] A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hal. 272
[8] Ahmad hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1996), hal.161.
[9] Sirajuddin zar, Fisafat Islam Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,2007), hal.207-208.
[10] Hadariansyah, Pengantar Filafat Islam, hal. 156.
[11] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam……….. ,hal. 215-216.
[12] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam……….. , hal. 214.
[13] Sirajuddin zar, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, hal.210.
[14] Sudarsono, Filsafat Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 82.
[15] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam……….. , hal. 215.
[16] Poerwantana, A. Ahmadi, Rosali, seluk beluk filsafat islam , (Salatiga:CV.rosda,1987), hal. 196.
[17] Poerwantana, A. Ahmadi, Rosali, seluk beluk filsafat islam,hal. 195.
[18] Hadariansyah, Pengantar Filafat Islam, hal.162-163.
[19] Hadariansyah, Pengantar Filafat Islam, hal.164-165.
[20] Hasyimsyah Nasution, filsafat islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hal. 111.
[21] Hadariansyah, Pengantar Filafat Islam, hal.165.
[22] A. Mustofa, filsafat islam (bandung: pustaka Setia, 2004) hal.275.
[23]  Sirajuddin zar, filsafat islam filosof dan filsafatnya, hal.212-215.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar