I.
PENDAHULUAN
Filsafat merupakan hasil pemikiran para filosof yang
mengemukakan hakikat sesuatu dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan
sistematis. Dalam berfilsafat berarti mengajak orang lain untuk berfikir
tentang hakikat sesuatu, dan sesuatu yang dimaksud tersebut adalah hakikat
tentang adanya Tuhan. Salah satu tokoh yang berperan dalam pemikiran filsafat
ini adalah Ibnu Thufail. Untuk lebih jelasnya mengenai bagaimana filsafat dan
pemikiran beliau, dapat dipelajari secara singkat dalam makalah ini. Semoga apa
yang kami sajikan dapat difahami dan memberikan manfaat bagi pembacanya.
II.
PEMBAHASAN
- Biografi Ibnu Thufail
Ibnu Thufail adalah salah satu dari filsuf muslim di
belahan bagian barat. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Abd Al-Malik
Ibn Muhammad Ibn Thufail Al-Qoisyi, sedangkan di Barat beliau lebih dikenal
dengan nama latinnya abubacer.[1] Beliau dilahirkan pada
tahun 506 H/1110M di Guardix, di desa
cadix Granada Andalus[2] 40
Mil di laut Granada di provinsi Granada.[3]
Ia termasuk dalam keluarga suku arab terkemuka yaitu Qais[4]
dan hidup dalam pemerintahan Daulah Muwahhidun.
Dalam sejarah hidupnya, beliau adalah merupakan
seorang yang alim, berwawasan luas, ahli ilmu alam, penyair, peramal dan
filosof. Selain sebagai pemikir, beliau berprofesi sebagai mentri untuk
penguasa Granada. Setelah itu, pada tahun 549 H/1154 M beliau diangkat menjadi
sekretaris Dinasti Muwahidin di Afrika oleh Amir Abu Said bin Abdul Mukmin,
penguasa Sabitah dan Tanjah. Kemudian pada tahun 558 H/1163 M beliau menjadi asisten ahli mentri dan dokter
pribadi Abu Ya’qub Yusuf, khalifah kedua Dinasti Muwahidin.[5]
Pada masa khalifah Abu Ya’qub Yusuf,
Ibnu Thufail mempunyai pengaruh yang besar dalam pemerintahan. Pada pihak lain,
beliau mencintai ilmu pengetahuan dan secara khusus adalah peminat filsafat
serta memberi kebebasan berfilsafat. Sikapnya itu menjadikan pemerintahannya
sebagai pemuka pemikiran filosofis dan membuat Spanyol, seperti dikatakan R.
Briffault sebagai “tempat kelahiran kembali negeri Eropa”. Namun ia kemudian
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dokter pemerintah pada tahun 578 H/1182
M, dikarenakan usianya yang sudah mulai uzur. Kedudukannya itu akhirnya digantikan
oleh Ibnu Rusd atas permintaan dari Ibnu Thufail sendiri. Tapi beliau tetap
mendapatkan penghargaan dari Abu Ya’qub setelah dia meninggal pada tahun 581
H/1185 M di Marakesh (Maroko) dan dimakamkan disana, Al-Mansur sendiri hadir
dalam upacara pemakamannya.[6]
- Karya-karya Ibnu Thufail
Dalam sejarah hidup beliau, tidak terlalu banyak
karangan yang dapat kita peroleh sebagai karya-karyanya. Namun dalam sebuah
sumber menyebutkan, antara lain dari hasil karya beliau antara lain Risalah
fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy Ibnu Yaqzhan) Rasa'il fi an-Nafs, Biqa'
al-Maskunnah wa Al-Ghair al-Maskunnah. Selain itu beliau juga memiliki
beberapa buku tentang kedokteran serta risalah berisi kumpulan surat-menyurat
yang beliau lakukan dengan Ibnu Rusyd dalam berbagai persoalan filsafat. Ibnu
Rusyd mengatakan bahwa Ibnu Thufail mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang dalam
ilmu falak. Sayangnya semua hasil karya beliau tidak ada yang tersisa kecuali
risalah Hayy ibnu Yaqzhan.[7]
- Pemikiran Filsafat Ibnu Thufail
Dalam pemikiran yang dimaksudkan pada kisah ibnu
Yaqzan, Ibnu Thufail ingin mengatakan bahwa insting manusia kepada Tuhannya
adalah merupakan sifat alami yang dimiliki oleh akal. Akal
dan wahyu adalah pemikiran filsafat yang paling penting. Selain itu, ada juga
pemikiran-pemikiran filsafat Ibnu Thufail lainnya yang tersirat dalam buku
tersebut. Kisah ini ditulis sebagai
jawaban atas permintaan seorang sahabatnya yang ingin mengetahui hikmah ketimuran
(al-hikmah al-masyriqiyyat) maka pada pengantarnya sebagai berikut:
“wahai saudara yang mulia, engkau minta agar sedapat
mungkin aku membuka rahasia-rahasia filsafat timur yang sudah disebutkan oleh
Abu ‘Ali Ibn Sina. Ketahuilah bahwa bagi orang yang mengingkari kebenaran yang
tidak berisi kesamaran lagi, maka ia harus mencari filsafat itu dan berusaha
memilikinya.”
Sesudah itu ia mengatakan bahwa tujuan filsafat
tersebut ialah memperoleh kebahagiaan dengan jalan dapat berhubungan dengan
Akal Faal melalui akal (pemikiran).[8]
Selain itu, berat dugaan tulisan Ibnu Thufail ini erat
kaitannya dengan serangan al-Ghazali terhadap dunia filsafat. Di kala itu,
orang-orang takut berfilsafat dan usaha-usaha para filosof muslim yang telah
mendamaikan filsafat dengan agama yang telah sirna sama sekali. Ibnu Thufail
ingin menetralisasi keadaan dan ingin mengembalikan
filsafat ke tempat yang semula, yakni filsafat bukanlah “barang” haram. Agar
filsafat itu juga bisa dimengerti oleh orang awam dan memasyarakatkan filsafat.[9]
Untuk lebih jelasnya maka ada baikmya untuk menyimak kisah ibnu Yaqzan
untuk kemudian mengambil kesimpulan tentang pemikiran filasafatnya.[10]
- Hayy Ibnu Yaqzhan
Hayy ibnu Yaqzhan dalam
buku tersebut adalah sebuah kisah tentang seseorang yang dijadikan sebagai objek
dan simbol dari filsafatnya Ibnu Thufail akan akal
manusia yang tanpa bimbingan wahyu mampu mencapai kebenaran tentang fenomena
dunia ini, Tuhan, dan alam rohani lainnya. Dan adapun kebenarannya, sama sekali
tidak bertentangan dengan kebenaran wahyu yang disampaikan oleh para nabi
kepada umatnya.[11]
Hayy adalah seorang
anak dari seorang putri kerajaan yang menikah dengan rakyat jelata. Namun
karena rasa takut si putri ini apabila ketahuan dengan kakaknya yang mana
adalah menjadi raja ini, maka ia memasukkan bayinya kedalam peti dan
melemparnya ke laut.
Dengan hempasan ombak, peti tersebut mendarat kesebuah pulau terpencil tak
berpenghunikan oleh manusia. Di pulau
yang tak berpenghuni oleh manusia ini, ia dirawat oleh seekor rusa yang baru
saja mengalami kehilangan bayinya. Ia tumbuh dengan baik dalam lingkungan
binatang menjadi manusia dewasa.
Ketika ia sudah dewasa, ia memiliki hasrat yang kuat
untuk mengetahui dan menyelidiki itentang segala sesuatu yang tidak dapat
dimengertinya. Akalnya berkembang sedemikian rupa menurut sunnatullah sehingga
ia bukan saja mampu berfikir tentang fenomena dunia melainkan mampu menangkap
segala sesuatu yang bersifat abstrak dan mengetahui tentang Tuhannya.[12]
Dan juga ia menemukan cara memenuhi kehidupan hidupnya. Perasaan dan pikirannya
mendorongnya untuk mengambil keputusan bahwa alat kelaminnya perlu ditutup.[13]
Pada suatu hari rusa yang mengasuhnya semakin tua dan
lemah kemudian mati. Pikiran manusia yang
ingin serba tahu ini akhirnya meneliti kenapa sang rusa tersebut tidak
bergerak lagi dan akhirnya membedah tubuh hewan terseebut. Dengan cermatnya ia
menyelidiki dan kemudian memberi kesimpulan bahwa jantung merupakan pusat
anggota tubuh.[14]
Tidak jauh dari pulau tersebut, terdapat pulau yang
dihuni oleh sekumpulan masyarakat yang menganut ajaran nabi dari wahyu yang
disampaikan kepadanya. Tokoh utama dalam masyarakat tersebut adalah Absal
dan Salaman. Keduanya ini memiliki kecenderungan yang berbeda. Absal
lebih tertarik pada ketentuan hukum agama sedangkan Salaman lebih condong dan
berpegang teguh kepada arti-arti lahiriahnya. Akan tetapi karena para masyarakat yang lebih banyak menggunakan
ajaran sebagaimana pemikiran Absal, maka Salaman kemudian mengasingkan diri ke
sebuah pulau yang mana pulau tersebut dihuni oleh Hayy Ibnu Yaqdzan.
Ketika keduanya berjumpa, Salaman mengajarinya berbicara
sehingga keduanya dapat berdialog dan mendiskusikan pemikiran keduanya yang
memiliki sumber berbeda. Ternyata mereka mudah menerima pemikiran yang satu
dengan yang lainnya dan saling membenarkan.
Selanjutnya mereka bersepakat untuk kembali ketempat
tinggal Salaman dan mengajarkan serta mengajak masyarakat setempat untuk mau
menerima pemahaman mereka. Ternyata Absal dan masyarakat tersebut tidak
tertarik kepada pemikiran tersebut. Akhirnya mereka kembali kepulau kediaman
Hayy Ibnu Yaqdzan dan melanjutkan ibadah dan tafakur kepada Tuhan.[15]
Pada akhirnya, dalam pemikiran Ibnu Thufail yang
dimaksudkan pada kisah ibnu Yaqzan, yaitu Ibnu Thufail ingin mengatakan
bahwa insting manusia kepada Tuhannya adalah merupakan sifat alami yang
dimiliki oleh akal.
- Filsafat ibnu Thufail dalam kisah Hayy ibnu Yaqdzan
Ibnu Thufail mau menggambarkan bahwa filsafat (akal)
dapat berkembang sendiri tanpa harus bergantung pada masyarakat yang telah
maju. Dengan filsafat itu manusia dapat mengenal tuhan. Akan tetapi, Ibnu
Thufail akhirnya mengakui juga bahwa agama lebih praktis untuk menuntun secara
langsung keselamatan manusia dalam hidupnya. Filsafat itu dapat dipakai untuk
makrifat kepada tuhan, tetapi amal kehidupan manusia sendiri filsafat itu
terlalu ideal dan teoritis.
Ibnu Thufail membagi perkembangan alam pikiran
manusia menuju hakikat kebenaran itu ke dalam enam bagian:
Pertama:
dengan cara ilmu Hayy bin yaqdzan
yaitu denga kekuatan akalnya sendiri, memperhatikan perkembangan alam mahluk
ini bahwa tiap-tiap kejadian pasti ada yang menyebabkannya.
Kedua:
dengan cara pemikiran Hayy bin Yaqdzan terhadap teraturnya peredaran benda-benda
besar di langit seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang.
Ketiga:
dengan memikirkan bahwa kebahagiaan seseorang ialah menyaksikan adanya wajibal
wujud.
Keempat:
dengan memikirkan bahwa manusia ini adalah sebagian saja dari mahluk hewani,
tetapi dijadikan Tuhan untuk kepentingan-kepentinagn yang lebih tinggi dan
utama dari hewan.
Kelima:
dengan memikirkan kebahagiaan manusia
dan keselamatannya dari kebinasaannya hanyalah terdapat pada pengekalan
penyaksian terhadap Tuhan wajibal wujud.
Keenam:
mengakui bahwa manusia dan alam mahluk
ini fana dan semua ini kembali kepada Tuhan.[16]
Maksud lain dengan bukunya itu ialah Ibnu Thufail
ingin menjelaskan bahwa agama pada asasnya sesuai dengan alam pikiran
(filsafat). Dengan akalnya manusia akan dapat menyelami maksud agama. Hanya
dalam beberapa hal, terutama dalam soal-soal peribadatan seperti shalat, puasa,
dan haji, akal manusia terlalu lemah unutk menyelami hikmahnya yang sebenarnya.
[17]
- Filsafat dan agama
Yang dimaksud agama adalah syari’at tentang pengamalan
ajaran agama tersebut. Filsafat dan agama adalah selaras bahkan merupakan suatu
gambaran yang satu. Dalam kisah tersebut disebutkan bahwa Hayy ibnu Yaqzan
sejak bayi hidup disuatu pulau yang sama sekali tidak berpenghunikan manusia
sehingga ia tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lain. Dengan demikian, ia
jelas sama sekali tidak pernah berguru dengan orang lain. Namun ternyata ia
mampu mengenal Tuhan. Ia dapat mengenal dan mengetahui adanya Tuhan tidak
melalui informasi dari orang lain sebagaimana mereka masyarakat umat beragama
tetapi melainkan Hayy berfikir dengan menggunakan akal pemikirannya dan
menghasilkan pemikiran tentang adanya Tuhan.[18]
- Epistemologi
Epistimologi Ibnu Thufail yang tersirat dalam kisah
Hayy, bahwa pengetahuan (ma’rifah) dapat diperoleh melalui dua jalan, yaitu
dengan jalan filsafat dan jalan agama. Jalan filsafat adalah ma’rifahyang
diperoleh melalui akal, sedangkan jalan agama adalah ma’rifah yang diperoleh
melalui wahyu.[19]
Ma’rifah yang melalui akal bisa dengan cara mengamati,
meneliti, mencari, mencuba dan sebagainya. Ma’ rifah dalam hal ini merupakan
pemirikan yang dilatih, berkembang, bertingkat dan beragam. Sedangkan ma’rifah
melalui agama yaitu sebuah pemahaman wahyu dan menghayati batinnya. Hasilnya
hanya dapat dirasakan namun sulit untuk dapat mengungkapkannya.[20]
- Jiwa
Jiwa menurutnya Ibnu Thufail adalah penggerak bagi
jasad. Sifat jiwa berbada dengan jasad. Jasad bersifat materi sedangkan jiwa
bersifat immateri. Apabila seseorang mengalami kematian, jiwanya akan terlepas
dari jasadnya. Jasad akan hancur akan tetapi jiwa yang pernah mengenal Tuhan
sewaktu berada dalam jasad, dan setelah berpisahdenga jasad, ia akan tetap
abadi. Sedangkan jiwa yang tidak pernah mengenal Tuhan ketika berada dalam
jasad, ia akan binasa bersama dengan binasanya jasad setelah mengalami
kematian.[21]
- Tentang Dunia
Sebagaimana al-Ghazali, beliau mengemukakan bahwa
gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat dipahami tanpa
anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu
merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan kerena itu,
kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia dikesampingkan. Selain itu, segala
sesuatu yang tercipta pasti memiliki
sang pencipta.[22]
- Metafisika
Pengalaman hidup dan keseriusan menggunakan akal
untuk mengamati keadaan yang mengitari, merupakan jalan yang mengantarkan
seseorang menuju kepada Tuhannya. Bagi ibnu Thufail, dalil adanya Tuhan adalah
alam yang bergerak. Sebab segala sesuatu yang bergerak pasti ada yang
menggerakkan. Dalam membuktikan adanya Allah swt Ibnu Thufail
mengemukakan tiga argumen:argumen gerak (al-harakat), argumen materi
(al-madat) dan bentuk (al-shurat), argumen al-ghaiyyat dan al-‘inayat
al-ilahiyyat.[23]
III.
PENUTUP
Filsafat Ibnu Thufail secara ringkas sesungguhnya ingin
menyatakan bahwa seorang manusia mempunyai pikiran yang cerdas dan memiliki
kesiapan secara natural memungkinkan untuk sampai kepada suatu pengetahuan
secara gradual dari suatu yang inderawi kepada suatu yang rasional atau dari
suatu yang tak diketahui (malhul) menuju suatu yang diketahui (ma’lum)
sampai kemudian menuju ke pembentukan pengetahuan yang bersifat metafisika
dan kemungkinan itu tetap ada sekalipun ia hidup di habitat yang terisolir dari
manusia tanpa bantuan bahasa, tradisi,
agama dan budaya yang mewarnainya dan itulah tema yang ingin di tunjukkan dalam
kehidupan hay bin yaqzhan dalam keterisolasirannya yang total sejak
kelahirannya, ini berbeda dengan Ibnu Sina dan Ibnu Bajah yang berpendapat
bahwa pemikiran tentang hal-hal metafisika merupakan hasil pembelajaran, study,
dan intelektualitas yang berarti mensyaratkan bagi orang yang mencapai
pengetahuan tersebut untuk hidup dalam habitat manusia.
Dafta pustaka
‘Utsman Najati Muhammad, Jiwa
Dalam Pandangan Filosof Muslim, Terj. Gazi Saloom (Bandung: Pustaka
Hidayah, 2002).
Hadariansyah, Pengantar Filafat
Islam: Mengenal Filosof-filosof muslim dan filsafat mereka (Banjarmasin:
Kafusari Press, 2012)
Hanafi Ahmad,
Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1996).
http://pandidikan.blogspot.com/2010/12/biografi-ibnu-thufail.html di akses 5 des 2012.
http://www.slideshare.net/UsmanJambak/ibnu-tufail-13020060 di akses 5 des 2012.
Mustofa A,
filsafat islam (bandung: pustaka Setia, 2004) .
Nasution
Hasyimsyah,
filsafat islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999).
Poerwantana, A. Ahmadi, Rosali, seluk
beluk filsafat islam , (Salatiga:CV.rosda,1987).
Sudarsono, Filsafat Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1997).
Supriyadi Dedi, Pengantar
Filsafat Islam: konsep, filsuf, dan ajarannya, (Bandung: Pustaka
Setia,2009).
Syarif M. M., Para Filosof Muslim, (Bandung: PT mizan,1996).
Zar Sirajuddin , Fisafat Islam Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,2007).
[1] Lihat Hadariansyah, Pengantar
Filafat Islam: Mengenal Filosof-filosof muslim dan filsafat mereka
(Banjarmasin: Kafusari Press, 2012), hal. 153 dan Dedi Supriyadi, Pengantar
Filsafat Islam: konsep, filsuf, dan ajarannya, (Bandung: Pustaka
Setia,2009), hal. 211.
[5] Muhammad ‘Utsman
Najati, Jiwa Dalam Pandangan Filosof Muslim, Terj. Gazi Saloom (Bandung:
Pustaka Hidayah, 2002), hal. 277
[6] A.
Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hal. 272
[8] Ahmad hanafi, Pengantar
Filsafat Islam, (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1996), hal.161.
[9] Sirajuddin
zar, Fisafat Islam Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta:
PT.Raja Grafindo Persada,2007), hal.207-208.
[16] Poerwantana, A.
Ahmadi, Rosali, seluk beluk filsafat islam , (Salatiga:CV.rosda,1987),
hal.
196.